Iman kepada Takdir sebagai Pilar Keteguhan Hati

Masjid Al Muslimun – Rungkut Barata Surabaya

Beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Iman kepada takdir mencakup keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, merupakan ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala, dan telah ditulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Keyakinan ini bukan sekadar menerima nasib, namun menjadi dasar penting dalam memahami hikmah di balik setiap kejadian dalam hidup.

Dalam salah satu kisah yang populer, diceritakan bahwa seorang pencuri ditangkap dan dibawa ke hadapan Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ketika ditanya mengapa ia mencuri, sang pencuri menyatakan bahwa tindakannya adalah karena takdir Allah. Khalifah Umar, seorang pemimpin yang bijak dan berilmu, tidak menyangkal ucapan tersebut. Beliau justru menjawab dengan ketegasan yang menggambarkan pemahaman yang lurus terhadap takdir: “Kami pun menghukummu dengan memotong tanganmu adalah karena kehendak Allah.” Peristiwa ini menunjukkan bahwa meskipun takdir mencakup semua hal, manusia tetap memiliki tanggung jawab moral atas perbuatannya.

Takdir Memiliki Dua Sisi

Kehendak kauniyah dan kehendak syar’iyah. Kehendak kauniyah adalah ketentuan universal Allah yang mencakup segala yang terjadi di alam semesta, termasuk hal-hal buruk. Sedangkan kehendak syar’iyah adalah apa yang Allah perintahkan dan cintai secara hukum syariat, seperti keadilan, kejujuran, dan ibadah. Sesuatu yang terjadi karena kehendak kauniyah belum tentu diridhai oleh Allah secara syar’i. Oleh karena itu, ketika seseorang berbuat dosa, tidak layak menjadikan takdir sebagai alasan pembenar. Kesalahan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Dua Aliran Ekstrem yang Menyimpang Dalam Memahami Takdir

Ada dua aliran ekstrem yang menyimpang dalam memahami takdir. Pertama, Qadariyah, yang meyakini bahwa semua perbuatan manusia sepenuhnya berada di tangan manusia tanpa campur tangan Allah. Keyakinan ini merendahkan kemahakuasaan Allah dan menolak ilmu-Nya terhadap hal-hal yang belum terjadi. Kedua, Jabariyah, yang menyatakan bahwa manusia seperti robot yang tidak memiliki kehendak, dan semua perbuatannya adalah hasil pemaksaan dari Allah. Ini bertentangan dengan kenyataan bahwa manusia diberi akal, kehendak, dan pilihan oleh Allah.

Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki ikhtiar. Dalam hal-hal yang dapat ia kendalikan, manusia dituntut untuk berusaha dan bertanggung jawab. Keberadaan takdir bukan alasan untuk bermalas-malasan atau bersikap pasrah tanpa usaha. Rasulullah SAW. bersabda, “Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditetapkan baginya.” Artinya, manusia tetap harus berikhtiar, dan ikhtiar itulah yang akan mengantarnya kepada takdir yang baik, insyaAllah.

Salah satu bentuk takdir yang bisa berubah adalah yang dicatat oleh para malaikat, seperti dalam catatan amal atau peristiwa yang belum terjadi. Dalam hal ini, doa dan amal saleh memiliki peran penting. Nabi Muhamad SAW. menyatakan bahwa tidak ada yang bisa mengubah takdir kecuali doa. Oleh karena itu, berdoa dengan sungguh-sungguh menjadi tanda keimanan yang kuat terhadap takdir dan juga bentuk harapan atas takdir yang lebih baik.

Beriman kepada takdir melahirkan ketenangan batin. Seseorang yang yakin bahwa semua kejadian telah diatur oleh Allah akan lebih mudah bersabar dalam musibah dan bersyukur dalam nikmat. Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu berkata bahwa meskipun seseorang bersedekah dengan emas sebesar Gunung Uhud, amal itu tidak akan diterima hingga ia beriman kepada takdir. Ubadah bin Shamit juga mewasiatkan kepada anaknya bahwa seseorang tidak akan merasakan manisnya iman sebelum meyakini bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin meleset, dan apa yang meleset darinya tidak akan pernah mengenainya.

Kesimpulan

Iman kepada takdir adalah fondasi kokoh dalam akidah Islam. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa semua terjadi atas kehendak Allah, namun bukan berarti manusia lepas dari tanggung jawab. Dengan memahami takdir secara benar, seorang muslim akan memiliki keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar, serta menjadikan hidupnya lebih bermakna dan terarah. Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui, dan setiap keputusan-Nya pasti mengandung hikmah, bahkan ketika manusia belum mampu memahaminya.

Disarikan dari kajian : Ust. Abdurrahman Yongki, ST

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *